Irvan "Baritone" A. - Sang Pemimpi Analitik

January 14, 2018

Pagi itu Irvan Alfiansyah yang dikenal sebagai Irvan Baritone, atau yang biasa kami panggil Kak Bokir, bangun dengan terkejut ketika ia melihat jam yang menunjukkan pukul delapan pagi. Sedangkan, dia harus mengikuti ujian tengah semester yang diadakan di kampusnya, London School of Public Relations pada pukul sembilan pagi. Dia pun berhasil datang dan melaksanakan ujiannya. Tentunya dengan perasaan yang tergesa-gesa.

 

Dan innalillahi, pada hari itu kakek dari salah satu anggota The Someday Project menghembuskan napas terakhirnya. Kak Bokir pergi melayat ditemani Fitria Ramadhani atau yang biasa kami panggil Kak Ipith. Sehabis itu, mereka langsung pergi menuju SMAN 78. Kak Bokir memimpin rapat bersama divisi musik untuk membedah naskah Kisah Alambara, sedangkan Kak Ipith hanya mampir.

Rapat divisi musik berjalan lancar. Sesekali canda dan tawa meleburkan suasana membosankan dan tegang yang biasanya menyelimuti setiap kali rapat berlangsung, tidak jarang canda dan tawa yang dilontarkan berlebihan sampai membuat jalannya rapat sedikit terhambat. Namun, Kak Bokir dapat menahan diri untuk tidak memarahi anggota yang bercandanya berlebihan atau keterlaluan.

 

Dia bisa saja enggan untuk melatih atau sekedar memimpin rapat, tapi baginya menjadi seorang pelatih di organisasi ini adalah sebuah tanggung jawab yang harus dia jalani, dia juga ingin melihat anak-anak yang dia latih berkembang. Pertunjukan Kisah Alambara ini adalah kali terakhir dia menjadi seorang Music Director. Setelah pertunjukan Kisah Alambara, dia akan hengkang untuk fokus di keproduksian The Someday Project. Namun, dari banyaknya alasan untuk dia merasa muak menetap di organisasi ini masih ada orang-orang yang bisa “menampar” alasan-alasan itu. Baginya, teman-teman pengurus-pengurus divisi musik adalah salah satu yang bisa membuat dia nyaman menjalani segala rangkaian proses yang ada di organisasi itu. Baginya juga, dia lebih mempercayai sistem sebagai pendukung dia untuk tetap berada di sini, dan sistem yang dia maksud adalah organisasi The Someday Project sendiri.

 

Menjadi seorang pelatih di organisasi ini tidaklah mudah, akan banyak rintangan yang harus dihadapi dan dilewati. Selain melatih dan memberikan ilmu kepada kami, terutama anggota divisi musik, Kak Bokir masih memiliki kesibukan lain seperti kuliah. Syukurnya, jadwal kuliahnya tidak terlalu sibuk dan cukup terancang dengan baik. Jadi, Kak Bokir bisa mengikuti kelas di kampusnya, sehabis itu langsung pergi mengajar. Kalaupun ada yang “menghambat” rutinitasnya adalah meeting bersama klien divisi media relation yang mana Kak Bokir juga yang menjadi pelatihnya. Sangat jarang, baginya, ada kejadian di mana di satu waktu dia harus ada di dua tempat yang berbeda.

 

Kak Bokir juga menjadi pelatih di organisasi ini karena keinginannya sendiri, tapi apakah orang tuanya merestui atau mendukung dia untuk menjadi pelatih? Menjadi orang yang menghabiskan sebagian dari waktunya mengajar anak-anak yang juga punya mimpi di The Someday Project? Syukurnya, iya, orang tuanya merestui apapun yang dia lakukan selama kegiatan itu bersifat positif. Setiap kali dia mengikuti kegiatan apapun, dia akan melaporkan apa saja yang dia sudah dapatkan dari kegiatan itu karena baginya menerima berbagai hal tidaklah cukup dan lazim, jika tidak ada balasan dari yang memberikan.

 Waktu akan berlalu. Pun akan membawa Kak Bokir ke masa dunia pekerjaan, masanya kepala kita akan dipenuhi banyak hal memusingkan, masanya hidup kita dipertaruhkan dalam satu hari; jika kita tidak bekerja hari ini, kita tidak akan bisa makan hari ini. Mungkin sedikit berlebihan penggambarannya, tapi semoga dan anggap saja dunia pekerjaan memang begitu. Tak pernah terbayang oleh kami, orang seperti apa yang akan menggantikan para pelatih saat ini jika mereka sudah sibuk dengan dunia pekerjaan mereka. Bagi Kak Bokir, orang yang dia harapkan bisa menggantikan dia ialah orang yang bisa dekat dan mengerti dengan anak-anak yang akan dia ajar, inovatif, dan juga tahu diri.

 

Dia menghela napas ketika permintaan itu tersampaikan. Dia diminta untuk memberikan tiga kata yang menggambarkan The Someday Project. Dia bersyukur diminta tiga kata, bukan satu kata karena baginya satu kata itu lebih susah daripada tiga kata untuk menggambarkan The Someday Project. Pun dia sempat kesusahan ketika memberikan kata pertama dan kedua. Akhirnya dia memberikan jawaban yang bisa diterima.

 

1. Hangat

2. Passion dan kecintaan terhadap sesuatu

3. Keluarga

 

Dia juga berseru “Wooo, why is it so hard?” ketika permintaan selanjutnya tersampaikan. Kali ini dia diminta untuk memberikan tiga kata yang menggambarkan diri dia sendiri. Susah loh untuk menggambarkan diri saya, katanya. Setelah berpikir, dia pun menjawab.

 

1. Kompleks

2. Analitik

3. Pemimpi

 

Dan, seorang Kak Bokir memang seorang pemimpi, bisa ditelaah dari harapan dia terhadap organisasi yang menaunginya saat ini. Dia menjawab seperti sedang memvisualisasikan jawabannya. Dia ingin agar The Someday Project menjadi wadah yang lebih besar bagi komunitas teater sma se-Jakarta, dan menjadi pendidik bukan hanya menjadi wadah.

Kak Bokir juga punya beberapa pesan untuk mereka yang dia ajari.

 

“Jangan pernah berhenti berkarya hidup entah ketika di dalam atau di luar SPro. Berkarya itu banyak caranya. Karyanya tentunya yang positif dan berdampak bagi masyarakat. Makin banyak karyanya, makin berpengaruh juga hidup kalian bagi masyarakat, dan itu lebih baik. Yang penting karya positif bisa diambil maknanya oleh orang lain, orang lain bisa mengambil inspirasi. Dan, hidup kalian akan memberikan impact pada kehidupan mereka.”

Kak Bokir juga berharap agar mereka yang dia ajari, bisa memaknai apa yang berjalan dan bisa menyebarluaskan SPro di manapun mereka berada.

Please reload

Recent Posts

September 16, 2017

March 6, 2017

December 15, 2016

Please reload

“A Place where Sincere Art is Continuously Created."

  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Facebook Icon
  • Black Spotify Icon